Makalah Praktikum Ekonomi
Sumber Daya Hutan Medan, Maret 2021
Dosen Penanggungjawab :
Dr. Agus Purwoko, S.Hut., M.Si.
Disusun Oleh:
|
Salomo Calvin
Saragih |
191201101 |
|
Decwan Lencana Malau |
191201107 |
|
Atania Br Ginting |
191201108 |
|
Tirtayasa Br Karo |
191201121 |
|
Lili Permata Sari |
191201122 |
|
Ferry Pranata P Ginting |
191201201 |
Kelompok 4 HUT 4C
PROGRAM STUDI KEHUTANAN
FAKULTAS KEHUTANAN
UNIVERSITAS SUMATERA UTARA
MEDAN
2021
KATA PENGANTAR
Puji dan syukur penulis ucapkan
kehadirat Tuhan Yang Maha Esa, yang telah
memberikan rahmat dan karunia-Nya sehingga penulis dapat menyelesaikan penulisan makalah praktikum ekonomi
sumber daya hutan yang berjudul
“Menanam Pohon Bernilai Ekonomis Tinggi ” ini dengan baik dan tepat
waktu. Laporan praktikum silvikultur ini disusun untuk memenuhi salah satu tugas praktikum
silvikultur dan sebagai salah satu syarat masuk praktikum silvikultur, Program
Studi Kehutanan, Fakultas
Kehutanan, Universitas Sumatera
Utara.
Dalam penyelesaian laporan ini, penulis mendapatkan bantuan
dari berbagai pihak. Oleh sebab itu penulis mengucapkan
terimakasih yang besar kepada Dr. Agus
Purwoko, S.Hut., M.Si. selaku dosen
pembimbing mata kuliah ekonomi sumber
daya hutan, yang telah mengajarkan materi praktikum dengan baik begitu juga dengan asisten praktikum silvikultur
yang telah membantu penulis dalam melaksanakan praktikum
yang hasilnya kemudian
dituangkan dalam laporan
ini.
Penulis sadar, penulisan laporan ini masih jauh dari kata sempurna, baik dari segi teknik
maupun materi.
Oleh sebab itu, penulis
sangat mengharapkan kritik dan saran
dari para pembaca demi penyempurnaan laporan praktikum silvikultur ini. Akhir kata, semoga laporan praktikum
silvikultur ini bermanfaat bagi kita semua.
Medan, Maret 2021
BAB I
PENDAHULUAN
Penanarnan jenis pohon tempat tumbuh
dan potensial dapat dijadikan sebagai
salah satu pertimbangan
untuk mengatasi persoalan ketersediaan dan produktifitas kayu. Jati putih (Gmelina arborea Roxb.) termasuk salah satu jenis tanaman kehutanan yang sangat berpotensi untrk
dibudidayakan. Hal ini disebabkan selain memiliki nilai ekonomis yang cukup tinggi, jati putih merupakan tanaman
yang mampu tumbuh di daerah kritis
dan memiliki daur hidup yang pendek. Selain itu jati putih merupakan salah satu jenis kayu yang memiliki produktivitas tinggi, bernilai ekonomi tinggi, memiliki sebaran alami
yang luas, memilfti variasi genetik yang besar,
dapat dibiakksn dengan mudah, teknik budidaya yang mudah dikuasai, serta tahan terhadap serangan hama dan penyakit.
Penanaman jati ini juga bertujuan untuk
mencegah lahan kritis akibat erosi oleh air hujan karena sebelumnya lahan ini merupakan hutan yang rawan akan erosi
(Deselina, 2011).
Pengelolaan sumber daya hutan sangatlah penting untuk pembangunan kehutanan pada saat ini dan di masa yang akan datang. Kabupaten Kubu Raya memiliki salah satu kawasan Hutan Lindung yaitu Gunung Ambawang dimana Pemerintah bertugas mengelola Hutan Lindung tersebut, berdasarkan satu rencana pengelolaan yang bersifat komprehensif yang terdiri dari pertimbangan kajian ekologi, teknis, ekonomis dan sosial budaya. Terdapat beberapa jenis Flora antara lain jenis meranti. Jenis tersebut lebih umum dikenal oleh masyarakat dengan nama perdagangan yaitu kayu meranti yang berdasar keadaan dan sifat kayunya dibedakan menjadi 4 kelompok, yaitu meranti balau/selangan batu, meranti merah, meranti putih, dan meranti kuning. Nilai ekonomis kayu meranti cukup tinggi, sehingga banyak dieksploitasi masyarakat baik secara legal atau illegal. Beberapa permasalahan yang dapat mengancam keberadaan dan keanekaragaman jenis meranti diantaranya adalah pembalakan liar, kebakaran hutan, perambahan hutan untuk perkebunan serta kegiatan penambangan liar di dalam kawasan (Irwan et al., 2015).
Tanaman jati memiliki sifat-sifat
konservasi yang cukup baik misalnya tajuk yang cukup luas yang mampu menahan
hujan agar tidak langsung jatuh ke permukaan tanah dan menguapkannya
(intersepsi) sehingga dapat mengurangi laju
aliran permukaan dan meningkatkan infiltrasi tanah. Jati juga merupakan
tanaman yang bernilai ekonomis tinggi
dan mempunyai prospek yang cukup cerah bila penanaman
dan perawatannya dilakukan
dengan optimal. Tanaman
ini juga mampu
hidup pada daerah yang memiliki
curah hujan tinggi.
Pemilihan penggunaan tanaman
jati sebagai tanaman
reboisasi dan diupayakan untuk memberikan tambahan
nilai ekonomi (Indah et al., 2012).
Mayoritas hutan rakyat dikelolah dengan sistem monokultur atau campuran, walaupun terdapat beberapa hutan rakyat yang pengelolaannya menggunakan sistem tumpang sari. Kurangnya pemahaman petani hutan terhadap kemampuan lahan yang dapat dioptimalkan pengelolaannya sehingga dapat menjadi sumber penghasilan yang menjajikan untuk kehidupan para petani hutan rakyat. Masyarakat pada umumnya hanya mengetahui cara mengambil atau memanfaatkan hasil-hasil hutan berdasarkan pengetahuan mereka sendiri, tanpa mengetahui cara yang tepat untuk menjaga kelestarian dan eksistensi hutan (Daud et al., 2018).
1.2 Rumusan Masalah
1.2.1
Apa saja jenis – jenis dan potensi
pohon yang bernilai ekonomis
tinggi ?
1.2.2
Apa saja yang mempengaruhi keberhasilan penanaman pohon ?
1.2.3
Apa saja tahapan penanaman pohon ?
1.2.4
Bagaimana teknik dan perawatan menanam
pohon yang baik ?
1.2.5
Apa saja manfaat dari menanam
pohon ?
1. 1.3 Tujuan
1.3.1 Untuk mengetahui jenis - jenis dan potensi pohon yang bernilai ekonomis tinggi
1.3.2
Untuk mengetahui apa saja yang mempengaruhi keberhasilan penanaman pohon
1.3.3
Untuk mengetahui tahapan
penanaman pohon
1.3.4
Untuk mengetahui teknik
dan perawatan menanam
pohon yang baik
1.3.5
Untuk mengetahui manfaat
dari menanam pohon
BAB II
PEMBAHASAN
2.1 Jenis – jenis dan potensi pohon yang bernilai ekonomis
tinggi
2.1.1 Meranti (Shorea spp.)
Meranti (Shorea spp.) adalah komoditas penting yang merupakan salah
satu jenis tanaman komersil
penghasil kayu utama di Indonesia. Meranti memiliki nilai ekonomi
yang tinggi dan berperan penting
dalam menjaga keseimbangan lingkungan. Kayu meranti menjadi primadona dalam perdagangan
kayu sehingga kayu dari jenis meranti
memiliki nilai perdagangan yang tinggi dan sangat terkenal.
Kayu meranti merupakan salah satu jenis kayu yang paling banyak
digunakan dalam kebutuhan manusia.
Selain kayunya, beberapa jenis shorea dikenal sebagai penghasil buah yang memiliki nilai perdagangan yang dikenal dengan buah tengkawang. Tengkawang dipergunakan
sebagai bahan dasar pembuatan coklat, kosmetik, industri
margarin, sabun, dan lilin.
2.1.2 Jati Putih
(Gmelina arborea)
Jati memiliki kombinasi sifat baik yang
tidak dimiliki oleh jenis-jenis kayu lain seperti tahan lama dan sangat awet, dapat digunakan untuk tujuan kayu pertukangan, memiliki penampakan yang cukup baik, kembang susut sedikit, mudah dikerjakan serta memiliki kemampuan
menahan beban degan baik. Meskipun keras dan kuat, kayu jati mudah
dipotong dan dikerjakan, sehingga disukai
untuk membuat furniture dan ukir-ukiran. Kayu yang diampelas halus memiliki permukaan yang licin dan seperti
berminyak. Polapola lingkaran tahun pada kayu teras nampak jelas, sehingga
menghasilkan gambaran yang indah. Dengan
kehalusan tekstur dan keindahan warna kayunya, jati digolongkan sebagai kayu mewah. Oleh karena itu, jati banyak
diolah menjadi mebel taman, mebel interior, kerajinan, panel, dan anak tangga yang berkelas.
2.1.3 Durian (Durio zibethinus)
Durian (Durio zibenthinus Murr.) merupakan salah satu tumbuhan tropis asli Asia Tenggara dan populer sebagai raja buah. Durian banyak dibudidayakan di kebun bersama dengan tanaman yang lain. Buah yang memiliki rasa dan aroma yang khas ini sangat digemari oleh sebagian besar masyarakat. Jika dilihat kegunaan durian ternyata bukan hanya daging buahnya yang dikonsumsi, tetapi jika digali lebih dalam lagi dapat ditemukan berbagai manfaat dari semua bagian tumbuhan durian tersebut, misalnya batang dari durian dapat digunakan sebagai bahan bangunan. Tumbuhan durian juga memiliki peran yang sangat penting dalam pencegahan erosi di lahan-lahan yang miring, karena perakaran durian akan mencengkram lapisan tanah atas, sehingga tanah tersebut terbebas dari erosi. Pemanfaatan tumbuhan durian meliputi sumber pangan/konsumsi (dimakan langsung, tempoyak dan lempok/dodol), bahan bangunan, kerajinan tangan, pewarna alam, tanaman obat dan adat / kepercayaan.
2.2 Hal yang mempengaruhi keberhasilan penanaman pohon
Salah satu indikator keberhasilan
penanaman adalah mengetahui besarnya tingkat pertumbuhan tanaman yang bisa diperoleh dengan adanya informasi
mengenai produktivitas tanaman.
Produktivitas tanaman dapat diukur salah satunya adalah melalui pertumbuhan diameter,
disamping karena mudah pelaksanaannya juga memiliki
keakuratan dan konsistensi cukup tinggi. Oleh karena itu pertumbuhan
diameter dapat digunakan untuk menjelaskan produktivitas tanaman. Tingkat
keberhasilan pertumbuhan tanaman
yang hidup dapat diduga dengan menghitung
proporsi hidup tanaman pada setiap tahun tanam kegiatan. Faktor lain yang mempengaruhi lainnya adalah letak
dan kondisi lokasi tempat penanamn pohon, iklim, kualitas bibit, pola tanam.
2.3 Tahapan penanaman pohon
Secara umum, ada beberapa faktor yang
perlu diperhatikan dalam pemilih jenis pohon. Yaitu, tujuan
penanaman, kecocokan jenis dengan tempat tumbuhnya, ketersediaan bibit yang akan ditanam,
dan penguasaan teknik
budidaya agar pohon
mempunyai nilai ekonomi yang tinggi setelah dipanen. Kesesuaian jenis
pohon dengan tempat tumbuhnya memungkinkan Pohon akan tumbuh secara optimal.
Hal ini dapat memberikan dampak
positif terhadap lingkungan, baik berkenaan dengan nila ekonomi, perlindungan dan konservasi tanah maupun pengaturan tata air.
Salah satu aspek penting yang perlu mendapatkan perhatian dalam rencana penanaman pohon adalah ketersediaan jenis tanaman yang akan ditanam. Jenis tanaman yang dimaksud harus memenuhi persyaratan sebagai berikut: 1) Pohon yang akan ditanam, dapat menjamin ketersediaan bahan baku kayu yang diperlukan oleh industri perkayuan yang didukungnya. 2) Persyaratan tempat tumbuhnya sesuai dengan kondisi tempat tumbuh pada lahan yang disediakan. Perlu diperhatikan apabila jenis tanaman yang dimaksud tidak termasuk jenis tanaman setempat melainkan jenis tanaman dari luar. 3) Mengetahui teknik budidaya dan menguasai dengan mudah dalam melaksanakan pembudidayaannya. 4) Bibit atau bahan tanamannya mudah disediakan 5) Pohon dapat cepat tumbuh dan atau tinggi volume dan nilai kayunya.
Pemilihan jenis tanaman dalam kegiatan penanaman
bukan masalah sederhana. Selain pertimbangan ekologis,
ekonomis, dan social, faktor waktu pun sangat penting
untuk mencapai hasil yang diinginkan. Investasi modal dalam pembangunan hutan buatan, seperti Hutan
Tanaman Industri (HTI) dalam bentuk silvikultur
intensif, maupun dalam bentuk Agroforestri tidaklah kecil jumlahnya. Oleh karena itu, pemilihan jenis pohon
yang sesuai dengan tapaknya, merupakan kunci keberhasilan. Beberapa kriteria ke arah penyederhanaan jenis pohon terpilih, untuk ditanam di tempat terbuka
seperti padang alang-alang dan tanah-tanah kritis,
adalah sebagai berikut:
1. Mampu tumbuh di
tempat terbuka di bawah sinar matahari penuh. 2. Mampu bersaing dengan
alang-alang dan gulma lainnya. Jadi, dipilih
yang cepat tumbuh tingginya dan
agresif 3. Mudah bertunas lagi, bila terbakar atau dipangkas/ditebas 4. Sesuai
dengan keadaan tanah yang kurus dan miskin hara, serta tahan kekeringan 5. Biji atau sebagian vegetatif
untuk pembiakannya, mudah diperoleh dan mudah disimpan.
6. Khusus untuk penghijauan, ditambah
lagi dengan syarat,
harus disenangi oleh rakyat/masyarakat, sehingga
merangsang mereka untuk menanam dan memeliharanya, karena bermanfaat.
Ada beberapa faktor yang mempengaruhi penentuan jarak tanam yakni singkat kesuburan tanah, jenis tanaman dan tingkat kemiringan lahan. Pada tanah yang subur, jarak tanam biasanya lebih besar jika dibandingkan pada tanah yang kurang subur. Jenis tanaman yang berktajuk lebar ditanam dengan jarak yang lebih besar, dibandingkan dengan jenis tanaman yang bertajuk kecil. Sedangkan pada tanah dengan topografi berbukit miring, biasanya jarak tanaman lebih besar karena harus mengikuti arah garis kontour. Jarak tanam di lapangan pada awal penanaman diwujudkan dalam bentuk pemancangan ajir. Ajir yang dipasang merupakan tempat bahan tanaman yang akan ditanam. Jarak tanam untuk suatu jenis tanaman dalam kegiatan penanaman hutan tidak dapat disama ratakan. Penentuan jarak tanam berpegang pada prinsip tanah harus cepat menutup, tujuan penanaman, sifat-sifat jenis pohon yang ditanam, kesuburan tanah dan kualitas batang yang diinginkan. Pada umumnya jarak tanam yang dipakai adalah 3 x 3 m, 3 x 5 m atau 4 x 5 m. Jarak tanam ini dibuat dalam larikan yang teratur mengikuti ketinggian tempat.
Metode
penanaman tanaman hutan dapat dilakukan
dengan Pola Monokultur maupun Tumpangsari. a.
Penanaman dengan pola monokultur, yakni penanaman
satu jenis tanaman. Terdapat kelemahan
dalam penanaman dengan
pola monokultur yakni memberi
peluang munculnya hama dan penyakit yang tidak
pernah putus. Selain itu juga memungkinkan
terjadinya ledakan hama karena persediaan
makanan tercukupi. b. Penanaman tumpang sari · Penanaman tanaman pokok, dan
di antara tanaman pokok juga ditanam
satu jenis tanaman lain. · Tanaman sela ditanam saat penanam tanaman
pokok. · Umur tanaman sela harus lebih pendek dari tanaman
pokok.
Evaluasi kegiatan penanaman dimaksudkan untuk mengetahui keberhasilan penanaman dan untuk menentukan kegiatan penyulaman. Keberhasilan tanaman dilapangan biasanya dilihat dari persentase kematian/hidup tanaman dilapangan. Kematian tanaman biasanya terjadi beberapa minggu atau beberapa bulan setelah penanaman, tergantung pada kecepatan tumbuhnya. Pada kondisi yang demikian, ketika semai sudah terlihat mulai ada yang mati (sampai ITTO Training Proceedings, Muara Bulian 4th-6th May 2006 29 maksimal 20%), maka harus dilakukan pemeliharaan (pembebasan gulma dan pendangiran). Penyulaman adalah kegiatan penanaman kembali untuk mengganti tanaman pokok yang rusak atau mati, sehingga jumlah tanaman per hektar yang tumbuh sesuai dengan standar yang telah ditentukan. Penyulaman bertujuan untuk meningkatkan persen jadi, tanaman dalam satu kesatuan luas tertentu. Besarnya intensitas penyulaman tergantung pada persen jadi tanaman. Jika persen jadi tanaman mencapai 100% pada areal tersebut tidak perlu ada sulaman. Pada 80% - !00% perlu ada sulaman ringan, sedangkan antara 60% - 80% dilakukan sulaman intensif dan di bawah 60% perlu dilakukan penanaman ulang. Tanaman yang disulam adalah tanaman yang mati, terkena penyakit dan kondisi jelek. Standar teknis penyulaman yaitu, bibit tertanam tegak lurus, akar terlipat dan lubang tanam ditutup kembali dan padatkan.
Pelaksanaan Kegiatan Penanaman terdiri dari: 1. Perencanaan lapangan Perencanaan lapangan bertujuan untuk menentukan areal yang akan ditanami. Dalam kegiatan ini perlu dilakukan pembuatan batas-batas areal tanaman termasuk batasbatas areal yang tidak boleh dibuka karena mengandung unsur perlindungan seperti jurang, lereng terjal, tepi sungai, mata air dan monument 2. Pembersihan lahan Kegiatan pembersihan lapangan mutlak diperlukan dalam persiapan pembuatan tanaman hutan. Kegiatan pembersihan lapangan meliputi pembersihan semak, perdu dan pohon-pohon sisa. Pada saat kegiatan pembersihan lahan dilakukan, bahanbahan yang dapat digunakan untuk membuat anggelan maupun ajir dapat dikumpulkan. Pada daerah yang miring sisa-sisa tonggak dibiarkan untuk menguatkan struktur tanah dan untuk mengendalikan erosi. 3. Pengolahan tanah Pengolahan tanah dilakukan dengan tujuan agar bibit yang ditanam memperoleh media tumbuh yang baik, sehingga tumbuhnya menjadi optimal. Ada beberapa Metode pengolahan tanah, yaitu; pengolahan tanah secara mekanis dengan menggunakan mesin-mesin traktor, dan pengolahan tanah secara manual, dengan menggunakan tenaga manusia dan peralatan yang sederhana. Pengolahan tanah dilakukan dua kali yaitu Gebrus I untuk membalikkan tanah dan Gebrus II untuk menghaluskan tanah hingga siap untuk ditanami. 4. Pengangkutan bibit Pengangkutan bibit dilakukan secara hati-hati agar tidak mengalami kerusakan selama dalam perjalanan. Bibit yang telah diseleksi dimasukkan ke dalam peti atau keranjang dengan cara disusun rapat sehingga tidak bergerak jika dibawa atau ditumpuk. Bibit yang dibawa ke lapangan adalah bibit yang sehat dan segar, dan terhindar dari panas matahari serta disimpan di tempat teduh dan terlindung. 5. Penanaman Tahapan pelaksanaan kegiatan penanaman meliputi : a. Pengaturan arah larikan - Penentuan arah larikan pada penyiapan lahan dilakukan secara manual dan kimiawi (herbisida) dan dilakukan sebelum kegiatan pembersihan lapangan, karena arah larikan tanaman membantu arah jalur tanaman pada saat akan dibersihkan. - Arah larikan tanaman pada daerah landai dibuat Utara – Selatan atau Timur – Barat, sedangkan pada areal bertopografi curam arah larikan sejajar dengan kontur. - Untuk memudahkan pekerjaan, penentuan area kawasan areal tanaman, jalan hutan atau batas blok / petak. b. Pemasangan ajir Pemasangan ajir dilakukan setelah pembersihan lahan; dengan cara menarik tali dari arah larikan pertama dengan arah sejajar, mengikuti jarak tanam yang telah ditetapkan pada rancangan tanaman. c. Distribusi bibit Distribusi bibit adalah pekerjaan pemindahan bibit dari persemaian ke areal tanam. Pendistribusian ke lokasi penanaman dilakukan setelah kegiatan pembuatan lubang tanam. Dalam distribusi bibit terdapat hal–hal yang perlu diperhatikan, antara lain: 1) Bibit yang diangkut dengan dipikul, memiliki jangkauan maksimal 2 Km dari tempat pengumpulan bibit di lapangan. 2) Jumlah bibit yang diangkut sesuai dengan jadwal penanaman serta kemampuan regu tanam. d. Pembuatan lubang tanam dan penanaman - Pembuatan lubang tanam dilakukan dekat ajir, dengan ukuran lubang 30 x 30 x 30 Cm. - Karena bibit mengunakan polybag, maka sebelum bibit ditanam kantong plastik dilepas dengan cara disobek. Sebelumnya media dipadatkan terlebih dahulu dengan cara memeras atau menekan polybag tersebut. - Bibit diletakan di tengah lubang secara vertikal, terus ditimbun hati-hati dengan tanah sekitar sampai batas leher. Dalam menimbun upayakan topsoil dimasukkan ke lubang terlebih dahulu. Kemudian tanah sekitar bibit dipadatkan dengan jalan ditekan secara hati-hati sampai terjadi kontak antara perakaran dengan tanah. e. Waktu penanaman Penanaman di lapangan dilakukan pada saat musim hujan, terutama saat hujan telah merata dan tanah sudah cukup lembab. Waktu pelaksanaan dilakukan pada pagi hari terutama pada saat cuaca agak mendung / berawan.
2.4 Teknik dan perawatan menanam pohon yang baik
2.4.1 Teknik dan Perawatan Menanam
Pohon Meranti
Pemeliharaan tanaman meranti meliputi kegiatan penyulaman dan pembebasan tanaman dari berbagai gangguan gulma, hama dan penyakit. Pengaruh perlakuan pemeliharaan yang memberikan hasil terbaik terhadao pertumbuhan tinggi dan diameter. Tanaman yang mendapat perlakuan pembersihan intensif hasilnya lebih baik dalam pertumbuhannya. Mendapat sinar matahari yang cukup membantu meranti tumbuh lebih baik. pembersihan berarti mengurangi persaingan baik secara vertikal dalam mendapatkan sinar matahari maupun horizontal dalam mendapatkan unsur hara, Maka tanaman ditanam akan mendapatkan ruang tumbuh yang lebih baik.
2.4.2 Teknik dan Perawatan Menanam
Pohon Jati Putih
Tegakan
Jati yang sehat, tumbuh cepat dan menghasilkan kayu yang berkualitas dapat diperoleh dari bibit
yang induknya berkualitas (benih unggul). Bibit
yang unggul akan menunjukkan pertumbuhan yang maksimal jika ditanam pada lahan yang sesuai bagi pertumbuhannya. Sebaliknya bibit unggul dapat menghasilkan pertumbuhan yang kurang baik
jika ditanam pada lahan yang tidak sesuai.
Tanaman bawah, semak, rumput perlu dibersihkan dari sekitar tanaman
Jati. Pada tanaman Jati muda,
gulma (tanaman pengganggu) perlu dibersihkan secara rutin, karena gulma merupakan saingan tanaman dalam memperoleh cahaya,
air dan unsur hara dalam tanah, dan tumbuhan
merambat juga mengganggu pertumbuhan Jati, bahkan
bisa mematikan.
Pemupukan dilakukan pada umur 1, 2 dan 3
tahun dengan pupuk NPK. Dosis pupuk pada tahun pertama 50 gr, tahun kedua 100 gr dan tahun ketiga
150 gr per pohon. Dapat pula digunakan pupuk kandang/kompos dengan takaran 10 kg per lubang
tanam. Pada lahan yang asam (pH rendah) dan kurang kapur (Ca), areal di sekitar tanaman perlu diberi kapur tanaman
(kapur dolomit) agar pHnya naik. Penyulaman
adalah kegiatan mengganti tanaman yang mati dengan bibit baru. Penyulaman diperlukan untuk mempertahankan
jumlah tanaman atau kerapatan pohon
Jati dalam luasan tertentu. Pemangkasan (prunning) merupakan kegiatan pemangkasan cabang pohon. Kegiatan
pemangkasan bertujuan untuk meningkatkan
tinggi bebas cabang dan mengurangi mata kayu dari batang utama. Dengan menghilangkan cabang atau ranting
yang tidak diperlukan maka nutrisi (sari
makanan) pohon akan terpusat untuk pertumbuhan pohon (batang dan tajuk utama). Kegiatan penjarangan bertujuan
untuk mencegah pohon yang sakit agar tidak
menularkan penyakitnya ke pohon yang lain, dan penyebaran (distribusi) tanaman menjadi lebih merata. Dan
dilakukan pencegahan dan penanggulangan hama
penyakit
2.4.3 Teknik dan Perawatan
Menanam Pohon Durian
Langkah pertama dalam penanaman durian yang baik dan benar tidak lepas dari cara kalian menentukan lokasi media tanam.Penentuan lokasi tanam sangat penting, dan akan menentukan apakah durian yang akan kalian tanam menghasilkan hasil yang maksimal atau tidak.Penentuan lokasi tanam menjadi sangat krusial, karena proses penanaman tanaman durian harus sesuai dengan syarat-syarat tumbuhnya.Lokasi harus memiliki intensitas pancaran sinar matahari langsung yang berkisar 40 hingga 50 persen. Iklim di lokasi juga harus diperhatikan agar buah durian dapat tumbuh dengan baik. Kalian bisa menanam durian di lokasi yang memiliki suhu 24 hingga 30 derajat celcius, dan memiliki iklim tropis dengan ketinggian 50 hingga 1000 meter diatas permukaan laut. Syarat tumbuh berikutnya ialah kalian harus memperhatikan jenis tanah yang cocok untuk menanam durian. Terdapat 3 jenis tanah yang cocok untuk digunakan dan diolah untuk penanaman durian, diantaranya jenis Latosol, Podsolik serta Andosol. Lebih lanjut, kalian harus memperhatikan tingkat keasaman alias pH tanah di lokasi penanaman. Tanah yang baik memiliki pH di kisaran 6 hingga 7. Tingat pH akan mempengaruhi pertumbuhan dari tanaman buah durian ini. Setelah itu, agar buah durian dapat tumbuh dengan baik, maka lokasi penanaman harus memiliki curah hujan yang cukup, tidak terlalu deras dan tidak terlalu kering. . Setelah syarat-syarat tersebut terpenuhi untuk lokasi tanamnya, langsung saja lakukan persiapan lebih lanjut, yakni persiapan dan pengolahan tanah pada lahan media tanam.Hal pertama yang mesti kalian lakukan ialah bersihkan lahan yang telah disiapkan dari tanaman pengganggu (gulma) dan semak belukar. Untuk menanam durian, kalian tidak perlu membuat bedengan atau gundukan tanah, cukup membuat lubang-lubang untuk penanaman bibit.Namun, perhatikan jarak antar lubangnya, beri jarak antar lubang sekitar 25 cm. Kemudian, lakukan penyuburan tanah terlebih dahulu, dimana kalian bisa memberikan pupuk kompos atau kandang ke dalam lubang yang telah disiapkan. Pastikan lahan yang kalian siapkan terkena pancaran sinar matahari secara langsung. Lebih lanjut, pada saat kalian membuat lubang, tanah galian dibagi menjadi dua, pada bagian atas dikumpulkan di sebelah kiri lubang, dan pada bagian bawahnya dikumpulkan di sebelah kanan lubang. Untuk lubangnya sendiri, biarkan kering terkena sinar matahari secara langsung selama seminggu. Setelah seminggu, tutup kembali lubang tanam. Untuk galian bagian atas, masukkan terlebih dahulu tanahnya setelah kalian campur dengan pupuk kompos atau pupuk kandang sebanyak 35 kg per lubang. Ikuti dengan tanah bagian bawah yang telah kalian campur terlebih dahulu dengan pupuk kandang atau kompos, serta tambahkan 1 kg fosfat sebanyak 35 kg per lubang. Kemudian untuk menghindari serangan rayap, semut, dan hama pengganggu lainnya, kalian bisa mencampurkan insektisida seperti Furadan 3G. Setelah itu, isi lubang sampai penuh hingga setinggi 20 sampai 30 cm dari permukaan tanah, dan tanah tidak perlu kalian padatkan. Terakhir, perhatikan waktunya, sebaiknya penutupan dilakukan 7 hingga 15 hari sebelum penanaman bibit dilakukan. Agar mendapatkan hasil yang maksimal ialah lakukan persiapan bibit tanaman.
Sebelum memulai proses penanaman bibit, ada beberapa kriteria dalam memilih bibit yang baik, diantaranya: Pilih bibit yang sehat, tidak sedang terkena penyakit tanaman, tidak terserang hama tanaman serta memiliki kesegaran yang terjaga. Pilih bibit yang memiliki daun dengan jumlah banyak. Pilih bibit yang memiliki batang kuat dan terdiri dari 2 atau 4 arah cabang. Setelah menemukan kriteria bibit yang memiliki kualitas yang baik, maka selanjutnya lakukan langkah-langkah penanaman bibit durian: Pilih bibit yang terlihat sehat dan tidak terlalu tinggi, memiliki daun yang tidak rusak dan terlihat tidak sedang terkena penyakit Pilih bibit yang telah cukup umur dan telah memiliki batang yang cukup besar, setidaknya telah tumbuh mencapai 15 cm. Kalian bisa memperoleh bibit di petani durian yang terpercaya serta dapat juga ke toko-toko pertanian, baik offline ataupun online. Gemburkan lahan dengan cangkul, dan diamkan selama kurang lebih 3 hari lamanya. Sebarkan pupuk kandang sebagai penambah nutrisi pada tanah, dan diamkan selama seminggu. Penanaman tanaman yang baik dapat kalian lakukan pada awal musim penghujan, agar tanaman yang masih baru bisa mendapatkan nutrisi dan suplai air yang memadai. Setelah mendapatkan bibit yang sesuai kriteria, kalian bisa langsung menanamnya dengan memindahkan bibit ke dalam lubang penanaman. Pastikan kalian tidak merusak batang ataupun akar pada saat pemindahan ke media tanam. Ini membutuhkan tingkat kehati-hatian yang tinggi, karena kalian akan membuka polybag sebagai wadah dari bibit tanaman. Setelah menunggu selama seminggu, masukkan tanah beserta bibitnya ke dalam lubang penanaman dan timbun kembali setinggi tanah yang ada pada polybag sebelumnya. Lakukan pemupukan di sekitar lubang tanam, dan lakukan penyiraman secara rutin dan teratur agar tanaman tersebut dapat tumbuh dan berkembang secara maksimal. Perawatan menjadi sangat penting untuk dilakukan, dibutuhkan ketekunan agar dapat menghasilkan hasil panen yang melimpah.
Berikut adalah perawatan harian yang musti kalian lakukan:Pertama- tama kalian beri pupuk NPK atau pupuk kompos secara teratur dan rutin, dengan takaran 1 sendok teh yang dilarutkan dengan 10 liter air untuk digunakan di 10 bibit. Semprotkan seminggu sekali.Lakukan pemupukan dengan pupuk kandang kering yang telah menyerupai pupuk fermentasi dan menyerupai tanah subur sebanyak satu gayung saja. Perlu diingat, jangan memberi pupuk terlalu banyak karena akan menghambat dan membuat pertumbuhan menjadi bermasalah.Langkah berikutnya ialah lakukan penyemprotan dengan menggunakan cairan pestisida dengan merek fastak atau diazinon. Ini berguna apabila kalian mengalami masalah penyerangan hama ulat. Bahkan selain membasmi hama, penyemprotan ini dapat membuat buah terbentuk lebih cepat. Lakukan pembersihan semua rumput atau gulma yang mengganggu jalannya pertumbuhan tanaman tersebut. Pembersihan ini berguna sebagai pencegahan agar tanaman gulma atau rumput tidak menghabiskan nutrisi di tanah.
2 2. 5 Manfaat dari menanam pohon
Kegiatan penanaman pohon sebagai upaya
menjaga cadangan air tanah dan menurunkan
erosi tanah, Penanamanpohon memiliki manfaat bagi kelangsungan hidup berbagai makhluk hidup yang
ada.Pesatnya pembangunan menyebabkan banyak pohon
yang ditebang. Dengan
denikian panas bumi meningkat serta jumlah pasokan air dalam tanah semakin berkurang.
Oleh karena itu,dengan menanam pohon
di sekitar perkotaan dapat menyerap polutan tertentu dan menyaring debu yang banyak kita temukan di udara. Dengan demikian
kita harus bersinergi, berbagi peran
untukmenjaga bumi kita tetap lestari.Menanam
pohon berarti kita telah mengimplementasikan caramenata lingkungan yang baik, dan menyelamatkan sumber air, serta mempertahankan udara bersih. Menanam pohon juga dapat dijadikan sebagai investasi jangka panjang
yang dapat mensejahterakan kehidupan masyarakat dari segi ekonomi.
BAB III
PENUTUP
Sebaiknya mahasiswa mengambil refrensi dari juran yang terpercaya, sehingga data atau
informasi yang didapat lebih teruji kebenarannya dan mahasiswa juga harus mengenali jenis
pohon yang bernilai
ekonomis tinggi.
DAFTAR PUSTAKA
Daud Irundu, Andi Arafat dan Rahmania. 2018. Nilai Ekonomi Langsung Berbagai Sistem Pengelolaan Hutan Rakyat di Desa Mirring, Kabupaten Polman, Sulawesi Barat. Jurnal Hutan dan Masyarakat. 10(1): 185-191
Deselina. 2011. Respon Pertumbuhan Semai Jati Putih (Gmelina arborea Roxb.) Terhadap Perbedaan
Komposisi Media Tanam (Serbuk Gergaji
Humanure, Sekam Padi, Subsoil
Ultisol). Jurnal Rafflesia. (1) : 330 – 334.
Feng J, Wang Y, Yi X, Yang W, He X. 2016. Phenolics from Durian Exert Pronounced NO Inhibitory and Antioxidant Activities. Journal of Agricultural and Food Chemistry, 64(21): 4273–4279.
Indah
Asmayannur, Chairul dan Zuhri Syam. 2012. Analisis Vegetasi Dasar di Bawah Tegakan Jati Emas (Tectona grandis
L.) dan Jati Putih (Gmelina arborea Roxb.) di
Kampus
Universitas Andalas. Jurnal Biologi Universitas Andalas. 1 (2) : 172-177.
Irwan Hb, Togar Fernando Manurung dan Ratna Herawatiningsih. 2015. Keanekaragaman Jenis Meranti (Shore Spp) Pada Kawasan Hutan Lindung Gunung Ambawang Kabupaten Kubu Raya Propinsi Kalimantan Barat. Jurnal Hutan Lestari. 3 (3) :462 – 468.
Pamoengkas P, Juniar P. 2011. Pertumbuhan Meranti Merah (Shorea leprosula Miq) Dalam Sistem Silvikultur Tebang Pilih Tanam Jalur. Jurnal Sivikultur Tropica, 2(1): 9-13.
Pasaribu G, Lolyta S. 2012. Peningkatan Mutu Kayu Jati (Tectona Grandis) Hasil Penjarangan Asal Kabupaten Cianjur. Jurnal Ilmu Kehutanan, 2(1): 27-37.
Pudjiono S. 2014. Produksi Bibit Jati Unggul (Tectona grandis L.f.) dari Klon dan Budidayanya. Jakarta: IPB Press.
Suprianto A, Farah D, Hari P. 2018. Studi Etnobotani Pemanfaatan Tumbuhan Durian (Durio Spp) Di Desa Labian Ira’ang Kecamatan Batang Lupar Kabupaten Kapuas Hulu. Jurnal Hutan Lestari, 6(3): 673-687.
Wahyu E, Evi S, Tuti A. 2006. Inventarisasi Permudaan Meranti (Shorea spp.) Pada Arboretum Kawasan Universitas Riau Kota Pekanbaru Provinsi Riau. Jurnal Ilmu Tanah dan Lingkungan, 6(2).
Yuniastuti E, Nandariyah, Samuel RB. 2018. Karakterisasi Durian (Durio zibenthinus)
Ngrambe di Jawa Timur, Indonesia. Journal
of Sustainable Agriculture, 33(2):
136-145.
